Sabtu, 25 Februari 2012

Kehilangan, Bukan Kerinduan

Hari ini saya mulai belajar mendefinisikan apa yang saya rasa. Mulai belajar mempertanyakan gejolak-gejolak yang saya terima, bukan sekadar menerimanya mentah-mentah. Pagi ini saya sadar kehilangan sebuah kepingan kecil yang kemarin-kemarin membantu saya memandang hidup sebagai sebuah realita yang sedang melawak. Setidaknya itu kesan yang saya terima, bukan yang dimaksudkan siapa pun. Dan ketika saya mencoba menggali lagi ke dalam diri saya, saya berusaha bertanya apa yang hilang? apakah itu sesuatu yang baik sehingga saya menginginkan hal tersebut kembali? apakah yang hilang itu sesuatu yang baik sehingga saya tidak perlu menyesali kehilangan ini? Hal tersebut saya kurang mengerti kesungguhannya. Yang saya tahu saya baru saja mendefinisikan perasaan saya ke dalam sebuah kehilangan, bukan kerinduan.

Anda tahu bedanya antara rindu dan kehilangan? Bagi saya hal tersebut tentu berbeda. Dan baru saya sadari perbedaannya pagi ini. Tidak perlu tinjauan dari KBBI saya rasa untuk menelaah perbedaannya, saya mau mengikuti intuisi saya hari ini. Terkadang semua tidak selalu akademik, atau terlihat akademik hanya sekadar menyampaikan maksud dari hati terdalam. Sekali lagi, saya mengikuti intuisi, bukan tinjauan akademik.

Tanpa ada komunikasi yang wajar sejak beberapa hari, saya kehilangan. Pasti, saya kehilangan.Ada kekosongan dalam menjalani hari, menghabiskan malam tepatnya. Ketika hal tersebut benar-benar hilang, saya mulai mencari-cari cara agar saya mendapatkan hal tersebut kembali lewat manusia yang sama. Saya sudah mencoba untuk menginisiasi diri saya, untuk membuka perasaan bahwa saya menginginkan keadaan yang sama. Nyatanya saya lelah mencari-cari. Kemudian saya berusaha menjadi pengamat perasaan saya sendiri, bukan menjadi orang yang merasakannya. Seperti saya adalah seorang wasit sepak bola, sedang diri saya yang lain adalah pemain sepak bola, sedang bola itu adalah perasaan saya, dan arenanya adalah hati saya. Saya (yang seorang wasit) hanya melihat bagaimana si 'saya' mengolah perasaan saya. Perasaan saya (bola) sedang digiring-giring ke sebuah gawang. Saya melihatnya jelas. Si 'saya' menggiringnya dengan harapan yang begitu besar supaya si bola masuk ke dalam gawang yang dimaksud. Semangatnya membara, saya bisa melihat harapan yang terpancar bersinar-sinar dari si 'saya', penggiring bola. Ketika pada akhirnya si 'saya' gagal memasukkan bola tersebut ke dalam gawang, saya melihat si 'saya' berganti-ganti air muka. Mula-mula ia kecewa sangat, kemudian ia mengerutkan kening, marah, kemudian ia cuma terduduk di lapangan dengan lesu, dan bingung, kemudian si 'saya' terlihat begitu biasa. Ketika saya berusaha bertanya kepada si 'saya', ia menjawab tidak tahu mengapa ia biasa saja. "Aku hanya melihat bahwa, masih banyak gawang lain yang bisa ku masukkan bola ke dalamnya." Kamu sedih? "Tidak, aku hanya kehilangan." Kehilangan apa? "Aku kehilangan kesempatan untuk memasukkan bola ke dalam gawang yang itu." Cobalah lagi. Kamu pasti bisa. "Tidak aku telah kehilangan kesempatan, pun keinginanku." Maksudmu? "Aku gagal, tetapi tak ada lagi keinginanku untuk mencoba ke gawang itu. Mungkin Kamu tidak lihat masih banyak gawang lain." Jadi perasaanmu? "Aku hanya merasa kosong. Tak ada rasa sesal karena gagal."

Jadi saya memutuskan untuk menyatukan kembali diri saya, bukan lagi individu-individu yang berbeda. Saya berusaha sadar, bahwa nurani saya sudah tidak berharap apa-apa akan hal tersebut (komunikasi), juga tidak menyesal tanpa kehadirannya. Ini yang saya agungkan sebagai kehilangan, bukan kerinduan. Kalau kehilangan ini bisa mengarungkan saya pada muara kerinduan. Saya lebih baik menepi, dan menemukan keberadaan saja. Saya sadar kerinduan di bangun dari harapan atas kehilangan. Saya tidak mau membangun apa-apa, saya tidak mau rindu. Kalau sudah hilang, saya lebih baik tidak mencari yang sama.