Sabtu, 25 Mei 2013

Setelah sebelumnya aku disajikan potonganpotongan kehidupanmu yang magis buatku
Aku menyerah.
Sungguh menyerah.
Aku pikir pada akhirnya semua ini seperti prosesi mengupas buah; menyingkirkan kulitnya pelan-pelan, kemudian mendapatkan daging buah yang segar, dan pada akhirnya menerima biji dengan lapang setelah puas menikmati lezatnya daging buah, tapi ternyata aku salah.
Ini semua bukan seperti mengupas buah.
Pada malam kemarin dan sampai pagi ini aku masih tahu dan masih sadar keadaan magis itu tiada berkurang
Malah menyelinap terus ke dalam hati, mengetuk-ngetuk rasa penasaranku
Tapi bukankah semua sudah cukup jelas ketika aku sudah ditolak di pintu kehidupanmu?
Ketika di teras hatimu kau menuliskan "Untukmu, cukup sampai di sini. Tidak boleh masuk lebih jauh."
Ya ya, aku mengerti dan semua telah terang benderang di siram sinar bulan dan diselimuti kebenaran. Aku paham.
Aku ini memang hanya tukang intip. Tukang intip hidupmu yang mau tahu apa yang kau rasakan di kamar kamar perasaanmu.
Aku ini memang hanya tukang ketuk. Pagipagi datang ke rumahmu padahal kau di dalam sedang mencairkan rindumu kepada perempuan yang sedang tidur.