Senin, 07 November 2011

Bapak

Saya bertemu seorang bapak tadi pagi. Berjalan terseok,pincang karena memikul beban. Ia membawa gerabah-gerabah pucat yang terayun ringan setiap ia bergerak. Pundaknya mungkin sudah linu, tetapi ia hanya bisa diam. Saya meneruskan jalan di selasar gang Kober. Matahari hampir muncul menghantui makhluk ciptaan Tuhan dan manusia. Saya berjalan, bertemu bapak itu. Perih hati saya melihatnya menyandang pikulan yang berisi gerabah-gerabah. Siapa yang hendak membelinya? Saya terpesona oleh  keadaan yang tidak memberikan pilihan bagi sang bapak. Gerabah adalah sisa masa lalu yang antik untuk dinikmati, bukan dimiliki. Bapak itu seperti ceceran kepahitan hidup yang secara tidak langsung bagian dari kehidupan saya dan Anda. Saya tidak akan sesedih ini jika yang dipikul oleh bapak itu adalah bahan pangan. Sesial-sialnya, pangan yang ia jajakan bisa ia telan sendiri untuk menutupi rasa lapar. Tetapi apa yang bisa diharapkan dari gerabah? Terlalu keras untuk dikunyah, pahit untuk ditelan, terlalu rapuh untuk dibawa-bawa. Matahari menyapa bahagia, tetapi bapak itu tersepak sendiri. Ia terkikis. Bapak itu menjadi gambaran betapa sempitnya ruang bagi kepahitan hidup. Saya beranjak, menulis pagi ini dengan segaris air di pipi.