Aku sekarang ada di suatu tempat. Sedang menunggu. "Menunggu hujan?" kata seseorang. Aku ogah disebut menunggu hujan. "Bukan. Menunggu reda." ralatku. Berbeda dari kebanyakan temanku yang puitis, aku tidak suka hujan. Betul hujan seperti pereda gerah, betul hujan itu romantis, tapi hujan juga bawa kesendirian yang terkadang manis tapi lebih banyak pahitnya. Tapi ya, ya, ya, aku nikmati saja. Aku kira tadi pagi mendung cuma guyon dengan gumpalannya yang kelabu itu, rupanya tidak.
Malah sekarang tetes hujan turun menggelitik apa yang bisa disentuhnya. Pepohonan digelitik, tapi dahan, ranting, daun dan akarnya cuma bisa menahan geli. Perasaanku? Ya perasaanku juga digelitik. Aku mau marah saja dan mengadu. Ah! Aku baru ingat bahwa itu sia-sia.
Perasaanku ini digelitik, aku jadi melankolis.
Setidaknya, ehm, terima kasih hujan aku bisa menulis lagi.
Sebetulnya jadi melankolis seperti ini tidak menyenangkan bagiku. Rasanya aku ini kosong sekali. Aku butuh diisi. Dan rasa rasanya, pikiran begitu membuatku rendah dan murah. Di hadapan siapa? Aku juga tidak tahu. Tapi mengingat perasaan kosong dan sendiri ini seperti aku tidak diinginkan.
Ketika hujan begini aku mungkin butuh sekadar indomie sebagai teman, tapi obrolan ringan dan tawa hangat seharusnya lebih menarik. Masalahnya, uang tujuh ribu akan cukup membeli indomie, sementara untuk obrolan ringan dan tawa hangat aku tidak tahu butuh uang berapa. Mungkin bukan uang yang diperlukan, tapi sedikit keinginan untuk bersama, ditambah sejumput kerelaan. Tapi siapa?
Hujan ini mungkin membawa nama-nama, yang sebetulnya aku selalu lupa, untuk diingat-ingat agar perasaanku tak begitu sendirian.Tapi semakin mengingat aku malah semakin sadar kalau aku sendiri. Maksudku sendirian. Aku malah semakin gigit jari dan merasa diejek, entah oleh siapa.
Dalam keadaan seperti ini, perasaanku mudah sekali bilang suka dan sayang. Padahal seharusnya tidak semudah dan semurah itu. Tenang, aku cuma mengatakan kata-kata itu di dalam hati saja, aku cukup tahu diri bahwa kata-kata tersebu jika betul-betul diucapkan kepada angin cuma jadi bahan lelucon. Karena itu, aku harus terbiasa membedakan apa yang aku rasa. Mungkin begini, aku melihat orang lain berjalan berdua dan aku jadi iri. Perasaan iri ini aku puaskan dengan cara memikirkan bahwa si "anu" buatku.
Padahal harusnya tidak begitu ya? Tapi baiklah, aku sudah lama tidak jujur begini. Mengutarakan apa yang aku mau, bukan kata-kata yang ingin dibaca orang. Menulis apa yang ingin aku ceritakan, bukan apa yang ingin diketahui orang.
Sekarang hujan sudah hampir berhenti. Rintiknya mereda tapi di saluran air gemericiknya masih gaduh. Ketika nanti hujan betul-betul angkat kaki, apa menurtmu perasaan yang digelitik hujan juga akan hilang? Menurutku sih tidak. Ya, masalahnya ada di situ.
------
Tuh kan! Aku malah bicara yang bukan-bukan. Salahkan hujan!
------