Kamis, 19 April 2012

Love- Priscilla Ahn cute

Rabu, 18 April 2012

Anak Muda dan Bapak Tua

“Sudah saatnya kita berterus terang satu sama lain.” Ucapnya kepada seseorang di sebelahnya.
Saat itu mereka sedang berbincang di pinggir jalan. Selalu di sana karena memang di sanalah mereka tinggal, dan juga selalu berteriak-teriak karena ramai sekali jalan raya ini.
“Sudah, menyerahlah. Kamu pasti mati juga. Tinggal menunggu waktu yang sebentar. Mengerti?”
“Tidak bisa begitu! Aku lebih tua darimu, Anak Muda. Singkirkanlah pikiran semacam itu. Tak kasihankah engkau pada bapak tua ini?”
“Buat apa pula kasihan. Kau cukup menunggu dengan sabar. Dunia tidak menginginkanmu lagi. Kau bau, lama, kotor. Kau bodoh.”
Bapak tua itu kemudian termenung sebentar. Ia merasa begitu direndahkan sebagai seorang yang sudah tua, dan merasa begitu tersinggung. Namun, kemudian ia berhasil mengatasi perubahan suasana hatinya. Air mukanya berubah jadi lunak seperti biasa.
Sudah sejak lama bapak tua itu kehilangan kepercayaan dari lingkungan sekitarnya karena usia tua dianggap telah membunuh apa-apa yang baik di dalam diri bapak itu. Dan mungkin juga karena sedikit orang yang mau mengingat jasa si bapak tua yang sebetulnya tidak terhitung jasanya. Tak apalah.
“Satu pesanku anak muda. Bapak tua ini mungkin tidak berguna pada masa mudanya. Tidak pula lebih berguna ketika masa tuanya. Kau perlu ingat Anak Muda, satu hal yang tak kan pernah dapat Kau berikan pada orang-orang yang kelewat majunya itu. Hal……..”
“Hahaha. Tidak perlu meluculah di ujung hidupmu Bapak Tua!
Baik. Apa yang tidak bisa kuberikan kalau begitu?” Potong si anak muda.
Bapak tua itu membutuhkan beberapa detik untuk menahan suaranya agar tidak bergetar. Agar air matanya tidak mengalir keluar.
“Ehm.
Dengarlah.
Kesederhanaan, kekeluargaan, kasih sayang, dan komunikasi. Tak kan pernah dapat Kau sajikan bagi mereka.
 Kau hanya mencari uang anak muda, padahal yang Kau layani adalah manusia bukan mesin yang hidup tanpa perasaan.”
Anak muda itu diam. Dan diamnya tidak bisa diartikan sebagai persutujuan atau penolakan. Ia hanya diam. Bisu yang kaku, dan dingin, dan getir.
Percakapan terhenti sampai di situ.
Mereka masih juga di tempat yang sama untuk satu, dua, tiga,……….dan beberapa bulan setelah percakapan itu. Tanpa bicara, tanpa komunikasi. Bapak tua makin tua, anak muda makin sombong.
Namun tidak sampai satu tahun pasar tradisional itu telah tutup habis, sementara orang tak bosan-bosan datang dan pergi ke mall besar di sebelahnya untuk membeli daging, kecap, dan bawang putih.
18 April 2012

KETIKA YANG TUA-TUA ITU KUMPUL BERUNDING

 Di sebuah kampung berkumpul
100  Kata Sifat, Kata Kerja dan Kata Benda
Mereka berunding tentang bagaimana cara menyusun
Kalimat Yang Baik

Yang dituakan di kalangan mereka, Keimanan,
ramai-ramai ditunjuk pertama.
“Ayolah Atuk, mulailah.”
(Atuk kependekan panggilan Datuk)

Keimanan agak enggan.
“Jangan aku yang mulai. Yang di pojok sana itu lah .
Simbah Pengorbanan.”

Pengorbanan terkejut.
“Wah, yang paling pas, Tanggung Jawab.
Ya: Tanggung Jawab.”

Tanggung Jawab menangkis bahwa sebaiknya Pendidikan
Pendidikan menolak halus, lalu menuju Ketertiban.
Ketertiban meminta kesediaan Optimisme.
Optimisme mengoper usul kepada Kerja Keras.
Kerja Keras mengalihkannya ke Demokrasi.
Demokrasi belum sanggup, sebaiknya katanya Kesantunan.

Angka diskusi mendekati 100, ketika diteriakkan kejujuran.
“ya, Ke-ju-ju-ran! Ke-ju –ju-ran! Ke-ju-ju-ran!”

Kejujuran didesak maju ke tengah.
Sesampai di tengah panggung. Kejujuran berkata:
“Baik, baik. Dengan satu syarat.”
“Apa itu? Apa itu?”
“Aku harus didahului oleh Rasa Malu.”
Majelis itu menolak ke kanan ke kiri, kemuka ke belakang
mencari Rasa Malu.

Ke mana dia Rasa Malu?

Taufiq Ismail
Horison/April/2012