Rabu, 20 Juli 2011

SAYA TIDAK CANTIK, JELEK, BURUK RUPA, APAPUN NAMANYA

Mungkin kalimat di atas terdengar sangat tidak bersyukur. Saya tidak hendak mengajarkan pembaca untuk tidak bersyukur, bukan, bukan itu.
              Kalimat di atas mungkin tidak berlaku untuk kebanyakan perempuan yang wajahnya mulus, bersih, bebas jerawat, senyumnya indah, kulitnya cerah, kurus dan seterusnya yang orang – orang cenderung menganggap mereka cantik. Akan tetapi bagi sebagian orang lain, kalimat di atas mungkin mengacu pada diri mereka masing – masing. Terlepas dari kesediaan mereka mengakui atau mengucapkannya di depan orang lain, jauh di dalam lubuk hati, pasti mereka terkadang merasa jelek.
              Jujur saja, saya kerap merasa jelek, buruk rupa, tidak cantik, atau apapun namanya.
              Mungkin belum semua yang membaca ini mengenal saya atau pernah bertemu langsung dengan saya. Kalau anda pernah bertemu dengan saya, anda dapat melihat berbagai kekurangan di diri saya. Yah jerawatan, bulu di mana – mana, hitam, tonggos, dan banyak kekurangan lainnya.
              Kalau anda bilang saya tidak cantik saya bisa jadi setuju dengan anda. Selama ini, saya merasa semuuuuuuaaaa jerawat, komedo, bintik hitam, kulit belang dan apa pun namanya yang ada di muka saya sebagai pengganggu. Saya perlu sebutkan bahwa selama ini saya cenderung membandingkan wajah saya dengan orang lain. Karena itulah saya menjadi sedikit terobsesi untuk memiliki wajah yang mulus seperti mereka. Saya usahakan berbagai hal untuk memperbaiki wajah saya, salah satunya pergi ke berbagai dokter kecantikan. Hasilnya? Bersih, tapi tidak mulus, dan hanya bertahan selama saya menggunakan produk kecantikan tersebut.
              Entah sudah berapa banyak uang orang tua saya yang saya habiskan untuk memperbaiki wajah ini.
              Saya bingung pada akhirnya akan tujuan saya yang menginginkan kulit bersih, mulus, apapun namanya. Saya kembali bertanya kepada diri saya sendiri akan maksud dan tujuan saya mengahmbur – hamburkan uang demi itu semua. Saya terpekur sendiri ketika mnyadari bahwa apa yang saya kejar selama ini cuma sekadra kepuasan batin tanpa sebuah hal yang sebetulnya penting. Ya, saya lupa bersyukur.
              Saya selama ini hanya ingin kelihatan sama “mahal” nya dengan orang – orang lain. Saya selama ini rupanya hanya ingin tampak cantik di foto supaya tidak kelihatan beda dengan yang lain. Ya, saya mengejar sesuatu untuk jauh dari diri saya yang sebenarnya.
              Dan mungkin karena itulah alasan Tuhan tidak mengizinkan saya memiliki wajah semulus teman – teman saya yang lain. Tuhan ingin saya lebih bersyukur, Tuhan ingin menunjukkan bahwa kecantikan dan penampilan luar tidak memberi segalanya.
              Hari ini lah saya ditunjukkan Tuhan pada suatu kuasa – Nya yang luput dari pengelihatan saya selama ini. Bahwa jutaan orang lain mempunyai masalah pada wajah, badan, gigi, gusi, mata, hidung, apa pun namanya, tapi mereka bisa berdiri tegar dan menunjukkan siapa mereka yang sesungguhnya tanpa tertunduk malu, atau mencari – cari pengalihan agar mereka dilihat lebih baik oleh orang lain. Hari ini saya melihat sekelebat seorang pengendara sepeda motor dengan jerawat yang jauh lebih parah dari pada jerawat di wajah saya.
              Saya tidak munafik, saya ingin wajah semulus Anda wahai pembaca. Saya ingin menjadi secantik Dian Sastro kalau bisa. Oh, andai tidak ada sebuah sifat syukur mungkin tiada batasan bagi saya dan orang – orang lain yang juga berkekurangan untuk bisa merasa cukup. Andai tidak ada sikap menerima dengan ikhlas mungkin saya dan orang – orang lain yang juga berkekurangan akan gila karena terobsesi untuk sempurna pada ukuran manusia.
              Sampai sekarang pun jika saya melihat foto – foto saya dengan teman – teman yang lain, saya tahu saya tidak secantik mereka. Terkadang rasa iri muncul pada kecantikan teman – teman saya. Apalah yang bisa saya lakukan? Habiskan uang dan waktu untuk secantik mereka. Tidak, tentu tidak. Saya tidak sekaya Anda dan teman – teman saya yang dapat membenah wajah mereka. Saya tahu itu.
              Tidak ada yang patut diperdebatkan mengenai merawat diri, atau melakukan perubahan seperti operasi untuk kecantika Anda. Sesungguhnya demi Tuhan, saya mendedikasikan post ini untuk diri saya sendiri, DINIA PUTRI, yang selama ini masih jauh dari sikap beryukur.

              Love,
              Dinia