Jumat, 30 Agustus 2013

Di Padang Bunga

Hati terkunci di padang bunga. Pada kupu-kupu dan kelopak segar yang mekar, ada embun di sana. Ada celah di sana, di antara jemari bunga yang dipeluk hujan. Ketika hati terus berjalan, hari menutup sendiri. Dan lelah meninju mata, namun hati ditawan kata. Bunga-bunga ciut dihadapan langit, karena bintang katanya jauh lebih indah, jauh lebih berkelap-kelip. Bunga lupa ia tidak bisa berkelap-kelip. Saat itulah hati dilepas pelan-pelan. Naik ke anak tangga langit yang curam dan berderit. Lelahnya  di penghujung anak tangga dan tiba-tiba ambruk dengan tega. Hati terjatuh, nyemplung ke kolam berbunga sepuh. Kata mereka, “Nak, hati-hati terhadap bunga yang lain. Mereka punya tipu muslihat.”. Bunga sepuh  tanpa keluh padahal udara dingin membeku. Hati kelu.