Senin, 26 Agustus 2013

Jarak

Kehidupan kita berjarak waktu. Antara  Kau dan aku, detik-detik jatuh mengiris perasaan. Mereka tertawa karena kita sama-sama terpana oleh asmara dalam doa-doa yang belum dikabulkan. Tak apa-apa. Terkadang waktu tersiksa sendiri. Ia menggigil seperti Kau yang belum sempat aku hangatkan karena kita masih berjarak.

Dari sini belum ada yang bisa terlihat. Aku pelan-pelan menyentil menit yang mengejekku karena tak kunjung bertemu Kau. Sementara langit bangun dan tidur, bahagia dan senang, menangis dan tertawa, kita masih belum juga memastikan rupa masing-masing.

Mungkin iya hari berlari terlalu kencang sehingga kita yang sudah lelah begini juga belum bisa menang. Aduh jangan terburu-buru, terkadang pikiran itu menenangkanku. Bagaimana Kau menenangkan dirimu? Aku jadi membayangkan kita sama-sama sedang berlari berusaha mengalahkan matahari. Berusaha mencari sumber air mata hujan supaya tanah sedikit kering. Tetapi usaha kita masih berjarak.

Di antara kita, waktu saling bercinta. Detik menemukan menit, menit menggumuli jam, jam dikandung hari. Mungkin asmara mereka tidak pernah tertular pada insan berjauhan seperti kita. Tapi ada Maha Kasih yang jadi pelabuhan kita. Aku dan Kau hanyut dalam sungai harapan yang kita kirimkan pada Tuhan. Lewat surat yang ditulis embun untuk pagi, atau bintang untuk malam. 

Tapi kita akan membunuh waktu kan? Sehingga mereka enyah dan balon-balon pertanyaan kita meletus satu per satu. Sehingga cangkir-cangkir itu bisa terisi rindu yang menenagkan.