Perasaan seperti ini merepotkan ya. Saya mau jadi tukang intip lagi, tidak bisa. Meski saya setiap pagi dan senja lewat di belakang rumahmu, kamarmu, tetap saja percuma. Kita kadang-kadang bertemu saling sapa dan bertukar cerita. Tapi kapan saya boleh mengintip rumahmu?
Saya bahkan tak tahu jalan setapak bagaimana yang menjembatani kamu dengan gerbang ke luar. Mengapa pula kamu tata pohon-pohon sialan itu di sekeliling rumahmu yang dua dimensi?
Hallo, niat saya baik mengintip. Kalau-kalau kamu sakit menelan sendiri ceritamu. Kalau-kalau kamu tersedak rasa kalut yang terpaksa kamu minum sendiri.
Tapi kamu bahkan tidak punya jendela untuk mengintip. Bahkan kamu tak punya lubang kunci supaya saya bisa mengintip.