Minggu, 06 Maret 2022

Hidupku satu tahun kemarin

Hidupku berubah.
Setahun terakhir terasa seperti naik roller coaster. Aku sering kali di atas, sampai lupa rasanya sedih karena cuma bahagia yang mengisi hari-hariku.
Tapi, pada banyak hari aku juga tenggelam ke dalam suasana sedih dan takut yang tidak berujung. Aku selalu penuh tanya, tapi seringnya tanpa harapan.

Setahun ke belakang, rasanya seperti mimpi. Aku tahu ada di dalam mimpi itu, aku tahu ga ada yang akan bertahan lama dalam mimpi. Tapi mimpi yang aku alami terlalu nyata. Rasanya, aku mau tukar apapun yang aku miliki untuk hidup di dalam mimpi indah itu. Aku masih ingat semua tempat, sudut, harum, tekstur, orang yang membersamaiku, dan rasa yang aku alami. Ya semuanya memang nyata. 

Dalam mimpiku semuanya cair. Apa itu prinsip? Apa itu batas-batas dan norma ? Apa itu baik dan buruk ? Tidak ada konsep semacam itu dalam mimpiku. Hanya ada aku dan satu orang lagi. Bagi kami, semuanya berterima. Asal kami bahagia.

Tapi ini mimpi kan? 

Meskipun enak, nyaman, dan nyata. Meskipun aku selalu melibatkan perasaanku. Meskipun ada attachment yang menjadikan aku tergantung pada dia.... Ini mimpikan? 

Aku bisa apa di dalam mimpi ? Semakin dalam rasanya semakin jauh berjalan. Rasanya seperti berjalan di padang bunga yang indah dengan hujan dan terang yang silih berganti. Indah, tapi aku merasa terlalu jauh. Aku takut tersesat dan tidak bisa pulang.

Mimpiku yang terlalu jauh juga membuat tidurku tidak nyenyak.

Berulang kali aku harus memilih antara mimpi indahku atau bangun dan menjalani hidup walau harus kehilangan mimpi itu. Berulang kali aku ingin bangun, tapi tidak bisa. Mimpiku indah sekali... Aku sayang sekali pada dia yang ada di mimpiku. Yang kadang jadi pohon teduh, anak kecil yang butuh teman, bunga yang mekar dengan cantik atau sebaliknya..... Jadi guntur dan halilintar yang mengancamku. Pada akhirnya aku dan dia lebih sering jadi guntur yang bersahutan, jadi topan yang saling buat limbung.

Pada satu titik kuputuskan untuk bangun. Dia limbung, tapi yang dia tidak tahu aku lebih limbung dan gila. Sendirian berbalik arah di tengah perjalanan mimpi yang indah. Sendiriang berusaha menerabas ilalang dan akar yang menutup jalan pulangku. Aku mendengar dia berteriak meminta bantuanku. Aku mendengar dia mengejar ke arahku. Aku mendengar suaranya hampir habis. Aku mendengar semuanya. 

Saat itu aku tidak banyak berpikir. Yang kutau aku harus bangun. Harus tinggalkan dia. Yang kutahu aku harus terburu-buru. Yang aku tahu aku harus membuatnya membenciku.

Aku berlari, dan dia tetap mengikuti. Aku berlari, dan deru napasnya masih dekat. Aku berlari, dan langkah kakinya masih ada. Aku berlari dan...... Dan dia sudah berhenti. Terengah-engah. Dia berhenti. Dan aku kehilangan. Ketika ku tengok sekitar, aku sendiri. Dia sudah berjalan kembali ke padang bunga. Dia berjalan dalam hujan meninggalkanku.

Ketika akhirnya terbangun, aku termenung dan berefleksi panjang soal perjalananku. Sungguh betapa jahatnya aku meninggalkan dia sendirian dalam kebingungan. Sungguh aku tidak punya hati, tak sedikit pun menengok ketika dia berusaha mengejerku. Sungguh aku manusia bodoh yang sangat egois hanya mementingkan diri sendiri. Aku malu pada diriku sendiri. Aku merasa hina dan buruk.

Aku terbangun, tapi bangunku meninggalkan luka dan berbagai pengandaian.

Andai saja aku lebih bijak...
Andai saja aku tidak kabur dan tergesa-gesa meninggalkan dia.
Andai saja aku bisa mengutarakan maksudku ingin berhenti.
Andai saja aku tidak terlalu emosional.
Andai saja aku tidak jahat.
Andai saja aku tidak memintamu membenciku.
Andai saja kita berpisah dengan pelan-pelan, saling melepaskan dengan doa dan rasa sayang.

Andai saja.....

Sekarang bahkan aku tak bisa menjadi temannya. Hal yang telah kami sempat bicarakan dulu.
Sekarang aku cuma bagian yang membuat dirinya hidup dengan trauma.
Sekarang aku cuma jadi pemeran jahat di hidupnya.

Untuk dia:

Maaf atas semua kesalahan dan kebodohanku.
Perasaanku akan selalu sama seperti perasaanku untukmu di tahun kemarin.