Jumat, 30 Agustus 2013
Di Padang Bunga
Hati terkunci di padang bunga. Pada kupu-kupu dan kelopak segar yang mekar, ada embun di sana. Ada celah di sana, di antara jemari bunga yang dipeluk hujan. Ketika hati terus berjalan, hari menutup sendiri. Dan lelah meninju mata, namun hati ditawan kata. Bunga-bunga ciut dihadapan langit, karena bintang katanya jauh lebih indah, jauh lebih berkelap-kelip. Bunga lupa ia tidak bisa berkelap-kelip. Saat itulah hati dilepas pelan-pelan. Naik ke anak tangga langit yang curam dan berderit. Lelahnya di penghujung anak tangga dan tiba-tiba ambruk dengan tega. Hati terjatuh, nyemplung ke kolam berbunga sepuh. Kata mereka, “Nak, hati-hati terhadap bunga yang lain. Mereka punya tipu muslihat.”. Bunga sepuh tanpa keluh padahal udara dingin membeku. Hati kelu.
Senin, 26 Agustus 2013
Jarak
Kehidupan kita berjarak waktu. Antara Kau dan aku, detik-detik jatuh mengiris perasaan. Mereka tertawa karena kita sama-sama terpana oleh asmara dalam doa-doa yang belum dikabulkan. Tak apa-apa. Terkadang waktu tersiksa sendiri. Ia menggigil seperti Kau yang belum sempat aku hangatkan karena kita masih berjarak.
Dari sini belum ada yang bisa terlihat. Aku pelan-pelan menyentil menit yang mengejekku karena tak kunjung bertemu Kau. Sementara langit bangun dan tidur, bahagia dan senang, menangis dan tertawa, kita masih belum juga memastikan rupa masing-masing.
Mungkin iya hari berlari terlalu kencang sehingga kita yang sudah lelah begini juga belum bisa menang. Aduh jangan terburu-buru, terkadang pikiran itu menenangkanku. Bagaimana Kau menenangkan dirimu? Aku jadi membayangkan kita sama-sama sedang berlari berusaha mengalahkan matahari. Berusaha mencari sumber air mata hujan supaya tanah sedikit kering. Tetapi usaha kita masih berjarak.
Di antara kita, waktu saling bercinta. Detik menemukan menit, menit menggumuli jam, jam dikandung hari. Mungkin asmara mereka tidak pernah tertular pada insan berjauhan seperti kita. Tapi ada Maha Kasih yang jadi pelabuhan kita. Aku dan Kau hanyut dalam sungai harapan yang kita kirimkan pada Tuhan. Lewat surat yang ditulis embun untuk pagi, atau bintang untuk malam.
Tapi kita akan membunuh waktu kan? Sehingga mereka enyah dan balon-balon pertanyaan kita meletus satu per satu. Sehingga cangkir-cangkir itu bisa terisi rindu yang menenagkan.
Selalu bingung
Ada banyak sekali hal yang mau saya ceritakan. Dari Juni hingga sekarang hidup saya naik turun sekali. Pertama kalinya saya naik roller coaster kehidupan yang entah rel nya mengarah ke mana.
Terlepas dari kisah itu, sebetulnya banyak sekali perasaan yang mau saya ungkapkan melalui puisi. Masalahnya, saya ini orang nya apa apa bingung. Jadi, mau bikin puisi atau menuliskan kecelakaan bulan Juli saya bingung. Huh.
Tapi kalau begini ya urusannya seperti 'Mana yang lebih dulu, telur atau ayam?', ga akan ketemu kalau bingung terus. Jadi, ya kapan kapan saya cerita ini itu tentang lembaran hidup yang kemarin. Hari ini saya mau sepakat dulu ah untuk membiarkan perasaan saya mengalir di sini.
Boleh kan? Tentu saja boleh.
Sila, mana perasaanmu yang mau dikeluarkan?
Terlepas dari kisah itu, sebetulnya banyak sekali perasaan yang mau saya ungkapkan melalui puisi. Masalahnya, saya ini orang nya apa apa bingung. Jadi, mau bikin puisi atau menuliskan kecelakaan bulan Juli saya bingung. Huh.
Tapi kalau begini ya urusannya seperti 'Mana yang lebih dulu, telur atau ayam?', ga akan ketemu kalau bingung terus. Jadi, ya kapan kapan saya cerita ini itu tentang lembaran hidup yang kemarin. Hari ini saya mau sepakat dulu ah untuk membiarkan perasaan saya mengalir di sini.
Boleh kan? Tentu saja boleh.
Sila, mana perasaanmu yang mau dikeluarkan?
Langganan:
Postingan (Atom)