Tidak bermaksud mengeluh. Dalam postingan kali ini aku cuma ingin berbagi cerita saja.
Bengkak. Mukaku bengkak sampai membuat mataku tidak bisa dibuka. Sekarang kondisiku sudah membaik, tapi ngilu masih nyisa belummau pergi. Entah penyebabnya apa, tapi sekarang area bibir hingga hidung dan pipi bagian kanan mukaku membesar. Aku tidak bisa mengatupkan bibir.
Rasanya sakit sekali, betul-betul ngilu. Tambah nyeri ketika kuperhatikan wajahku di cermin. Hampir mirip Daisy Duck. Yup! Pasangan Donald Duck. Bibirku besar sekali, bukan hanya bagian atas, bagian bawah pun juga.
Aku malu. Kututupi wajahku selama kontrol ke dokter.
Ketika aku berdiri, atau duduk dengan posisi yang tidak enak, maka otomatis akan ada tekanan ke gigiku yang sedang meradang. Aku tidak tahan. Sebentar-sebentar kucari posisi yang nyaman.
Empat hari ini rasanya aku sangat menderita. Bengkak di wajahku sedikit berkurang, ngilunya pun mereda. Tapi tetap masih jauh dari kata sembuh.
Ketika hari pertama, aku sangat down, depressed, like this was gonna be forever. The pain seemed kill me in that time. I was upset. I cried a lot. I stopped talking.
Here I am right now.
Rasa-rasanya sakit yang kutanggung ini lebih dari yang kumampu. Tapi ketika pikiran itu datang kubilang pada diriku: Hey! Allah would not give any hardship beyond your capacity! Dan ya, nyatanya aku masih kuat sampai sekarang.
Bukannya aku mau terus begini, tapi setidaknya aku mulai bisa membiasakan diri dengan ngilu yang merajalela tanpa kenal waktu. Aku mulai bisa mengira-ngira cara makan dan minum yang tidak perlu menyakiti diriku. Aku belajar cara sikat gigi yang aman untuk gigiku. Setidaknya, aku mau mencoba berdamai dengan situasi ini.
Selain itu, setiap kali aku mau mengeluh dan ambruk, aku mengingat kembali perjuangan pada tahun 2013. Tahun yang luar biasa berat bagiku. Tapi toh Allah membiarkanku melaluinya.. :)
Tahun ketika aku ada di titik terrendah hidupku. Ketika bisa menggerakkan jari-jari tangan adalah berkat tiada tara. Ketika duduk, berdiri dan berjalan adalah sebuah perjuangan berarti. Ketika Allah dan keluarga terasa dekat di hati.
Ketika Allah memberikanku kesempatan kedua untuk berubah. Untuk hidup lagi.
Sekarang, aku siap. Ini mungkin berat. Dan pasti banyak hal yang harus aku benahi dalam diri. Tak apa. Aku percaya Allah memberikan cobaan yang tepat pada waktunya untuk mendewasakan diriku. Tak apa. Jika ini menjadi penggugur dosaku.
-Pada sebuah malam yang sepi
Selasa, 24 Maret 2015
Tentang Telur Dadar
Malam ini papa pulang dengan membawa banyak makanan. Ada bakmi, ada sekotak nasi padang. Kemudian, mama memeriksa nasi padang itu apakah sudah basi atau belum. Papa bilang nasi kotak itu sudah dari tadi siang.
Begitu kotak nasi dibuka, mama tertegun dan diam. Aku mencoba mendekat dan sepotong telur dadar super tebal menyapa kami. Ah, telur dadar.
Sontak air mataku meleleh. Suara mama berubah gemetar. Aku tahu itu karena telur dadar.
Kami semua bukan penggemar telur, tapi beberapa tahun terakhir kami sering makan telur, khususnya telur dadar. Kenapa? Karena beberapa tahun terakhir aku-kembaranku-udaku jarang makan di rumah. Jadi, yang paling mudah dan praktis adalah membuat telur dadar. Tidak akan terbuang karena bisa disesuaikan dengan jumlah orang yang akan makan.
Kami, orang minang. Khususnya papaku, beliau lebih senang mengajak kami ke restoran padang ketimbang makan makanan barat. Setiap dari kami punya kesukaan lauk. Aku suka semua! Kalau kembaranku suka dendeng yang garing (harus garing), uda keduaku suka semuanya, uda pertamaku suka semuanya, tapi yang selalu ada di piringnya adalah telur dadar.
Baru saja tadi pagi uda pertamaku dengan sedikit air mata pamit dari rumah untuk mulai saat itu tinggal di Bekasi. Malamnya kami mendapatkan sepotong telur dadar di dalam kotak nasi.
Aih, rasa sayang bisa segitunya. Aku bahkan bertanya; "Mam telurnya mau ditinggalin untuk uda ngga?"
Tapi bagaimana caranya? Dia kan sudah pindah. Rumah sekarang hanya untuk berempat: aku-kembaranku-papa-mama.
Aku baru benarbenar sadar kalau uda pertamaku sudah pindah sore ini. Saat aku tidur di kamarnya, aku baru sadar kalau tumpukka hotwheels jualannya sudah tak ada, foto, stack of files, bahkan kemeja di dalam lemari sudah diangkut semua.
Sekarang aku malah bertanya-tanya mengapa aku menangis.
Kangen? Tidak juga.
Tidak rela? Harus ikhlas.
Lantas?
Mungkin sayang. Mungkin terbawa perasaan. Mungkin butuh waktu.
Begitu kotak nasi dibuka, mama tertegun dan diam. Aku mencoba mendekat dan sepotong telur dadar super tebal menyapa kami. Ah, telur dadar.
Sontak air mataku meleleh. Suara mama berubah gemetar. Aku tahu itu karena telur dadar.
Kami semua bukan penggemar telur, tapi beberapa tahun terakhir kami sering makan telur, khususnya telur dadar. Kenapa? Karena beberapa tahun terakhir aku-kembaranku-udaku jarang makan di rumah. Jadi, yang paling mudah dan praktis adalah membuat telur dadar. Tidak akan terbuang karena bisa disesuaikan dengan jumlah orang yang akan makan.
Kami, orang minang. Khususnya papaku, beliau lebih senang mengajak kami ke restoran padang ketimbang makan makanan barat. Setiap dari kami punya kesukaan lauk. Aku suka semua! Kalau kembaranku suka dendeng yang garing (harus garing), uda keduaku suka semuanya, uda pertamaku suka semuanya, tapi yang selalu ada di piringnya adalah telur dadar.
Baru saja tadi pagi uda pertamaku dengan sedikit air mata pamit dari rumah untuk mulai saat itu tinggal di Bekasi. Malamnya kami mendapatkan sepotong telur dadar di dalam kotak nasi.
Aih, rasa sayang bisa segitunya. Aku bahkan bertanya; "Mam telurnya mau ditinggalin untuk uda ngga?"
Tapi bagaimana caranya? Dia kan sudah pindah. Rumah sekarang hanya untuk berempat: aku-kembaranku-papa-mama.
Aku baru benarbenar sadar kalau uda pertamaku sudah pindah sore ini. Saat aku tidur di kamarnya, aku baru sadar kalau tumpukka hotwheels jualannya sudah tak ada, foto, stack of files, bahkan kemeja di dalam lemari sudah diangkut semua.
Sekarang aku malah bertanya-tanya mengapa aku menangis.
Kangen? Tidak juga.
Tidak rela? Harus ikhlas.
Lantas?
Mungkin sayang. Mungkin terbawa perasaan. Mungkin butuh waktu.
Senin, 16 Maret 2015
Ibu Kota
Ada jiwa-jiwa yang gentayangan:
mencuri selah antara mobil buatan Jepang dan Korea,
memeluk rindu rumah yang baru bebas ketika malam menghimpun gelap.
Berkeriut di tengah jalan,
Mereka lewati waktu yang panjang dengan berlari,
Tapi tak pernah betul-betul sampai.
mencuri selah antara mobil buatan Jepang dan Korea,
memeluk rindu rumah yang baru bebas ketika malam menghimpun gelap.
Berkeriut di tengah jalan,
Mereka lewati waktu yang panjang dengan berlari,
Tapi tak pernah betul-betul sampai.
Langganan:
Postingan (Atom)