Bagaimana jika yang ada justru ketiadaan sikapku menghadapimu yang memperkosa pikiranku.
Bahwasanya ketiadaan amarahku sebagai akibat kerelaanku yang hadir terlalu banyak.
Atas dasar apa aku melebur? Rela darahku dicampuri namamu, rela pikiranku dijejaki olehmu, rela malamku menjadi usaha berpuisi untukmu dan rela siangku menjadi usaha menatap matamu.
Di mana aku kalau ada dirimu di kamar-kamar perasaanku?
Di mana aku kalau ada dirimu di sarapan yang kunanti, di makan malam yang aku benci?
Adakah aku yang merasakan ini?
Atau aku tiada dan kamu yang menjadi tuannya?