Nulis, ya nulis aja, toh ini blogmu sendiri kok.
Baiklah, banyak hal yang terjadi dan tidak gue ceritakan lewat sini. Banyak, banyak sekali, yang paling membekas adalah serangkaian kegagalan yang seolah-olah sudah didaftarkan atas nama gue. Kalau sudah menyangkut 'gagal' gue selalu ingat ucapan sahabat, Husein.
Suatu kali ia ditanya oleh salah satu teman kami, "Apply sana sini mulu, Cheng. Ckck.". Tahu jawaban Husein apa? "Biarin, gue lagi ngabisin jatah gagal gue.". Jawaban yang menyenangkan dan akan selalu gue ingat! Intinya, gagal dan berhasil peluangnya sama, memulai langkah itu yang sulit.
Nah, sebetulnya lewat post kali ini gue mau cerita tentang proyek pribadi yang jadi pilot project untuk diri gue sendiri. Dilatarbelakangi oleh kondisi iman yang naik turun, dan pada praktiknya ibadah guememang masih kurang banget, gue berinisiatif untuk membuat peranjian keci-kecilan dengan diri gue sendiri: Goodness Project (GOD PRO). Tujuan dari proyek ini adalah agar guesecara konsisten melakukan suatu ibadah sekalipun sesederhana membaca Bagaimana realisasi proyek ini?
Pertama gue membuat konsep dasarnya: reward and punishment.
Lalu, gue membuat ibadah apa saja yang menjadi target gue untuk dilakukan secara kontinyu. Gue memilih empat jenis. Ga usah disebutkan ya :"). Setiap melakukan satu jenis ibadah, gue bakalan dapet satu hati.
Hati nya sengaja gue bikin warna-warni sesuai jenis ibadahnya. Nah setelah itu, hati-hati itu gue kumpulkan di dalam jar of goodness.
Terus reward and punishment nya?
Untuk reward syaratnya adalah gue harus mengumpulkan lima puluh hati. Terdengarnya sih banyak.. Tapi coba pikir deh kalau sehari bisa menghasilkan lima hati. Jadinya cuma sepuluh hari bukan?
Reward nya sendiri bukan hal yang mahal atau gimana kok, cuma hal sederhana. Gue suka banget sama ayam katsu mamanya Huesin yang buka kedai di kantin Psikologi. Demi Tuhan, itu enak banget. Nah, karena sejauh ini makanan itu yang lagi gue suka, maka reward yang akan gue dapatkan adalah makan ayam katsu di kedai mamanya Husein.
Sementara untuk punishment gue berlakukan jika gue ketinggalan shalat fardhu. Sekali, dua kali pasti pernah ya.. Nah, untuk memperbaiki itu gue memberikan punishment berupa kehilangan satu hati.
Sejak beberapa hari lalu program ini gue jalankan dan hasilnya alhamdulillah.
Dengan program ini gue bukan berusaha kalkulatif sama ibadah, ibadah kok itung-itungan. Bukan gitu kok maksudnya. Tapi gue mau lebih semangat dengan ibadah yang lebih rapi dan terorganisasi dengan baik. Setiap manusia pasti punya kekurangan, gue pun begitu. Ini adalah cara gue untuk memperbaiki diri dan meningkatkan ibadah. Ibadah yang sering dan rajin memang ga menjanjikan hubungan lo dengan Tuhan lebih baik. Semua kembali ke bagaimana kita menjalaninya. Tapi, kalau kita tahu masih banyak kekurangan diri, berdiam ga akan mengubah apapun.
Salam,
Dinia.

