Kamis, 01 Mei 2014

Anak

I am not a mother yet, but I witness everyday how a mother treats her children.

Kadang kita suka lupa kalau anak juga manusia. Dengan relasi kuasa yang alamiah terbentuk antara orang tua dan anak, banyak orang tua berhak mengabaikan perasaan anaknya. Seringkali pula saya ingin meminjamkan kaca mata kepada orang tua, agar ia tahu perspektif lain mengenai pola asuhnya terhadap sang anak. 

Menyaksikan anak diteriaki, diancam, ditakut-takuti, bahkan hanya untuk hal yang sederhana membuat hati saya miris. Terlebih perlakuan macam itu tidak mengenal kelas sosial orang tua. Artinya baik si kaya maupun si miskin, si berpendidikan maupun si tidak berpendidikan, bisa jadi memperlakukan anak dengan cara yang sama tidak menyenangkannya. 

Kalau boleh saya kutip dari film "The Help": "..once babies start havin' their own babies." -Aibileen

Apa yang musti disiapkan untuk menjadi orang tua? Tidak tahu, saya tidak tahu. Tapi satu yang pasti, bahwa orang tua hadir lebih dahulu daripada anak mereka. Bahwa orang tua telah mencicipi hidup lebih dahulu daripada anak mereka. Dan bahwa karenanya, orang tua seyogyanya menjadi figur dewasa yang ajeg dalam hal karakter maupun perilaku. 

Saya pun tidak mengetahui indikator kedewasaan seseorang. Tapi apakah tindakan membentak, mengancam, meneriaki orang lain, bersikap kasar dengan emosi tidak terkendali dapat dikelompokkan ke dalam sikap yang dewasa? Bukankah sebagai pribadi dewasa sejatinya seorang individu mampu menghargai eksistensi orang lain? Anda yang menilai. 

Seringkali orang tua berteriak pada anak untuk hal-hal sepele yang sebetulnya bisa dikomunikasikan dengan cara yang lebih baik tanpa harus mengintimidasi anak. Misalnya, seorang anak tidak mau berhenti mendetingkan sendok dengan piringnya, haruskah orang tua berteriak: "Heh ga bisa diem banget sih! Berisik tau!" kemudian merebut sendok dari tangan si anak? Atau justru: "Heh kalau berisik nanti ditangkap polisi!".

Bagaimana jika Anda sebagai orang dewasa diperlakukan seperti itu oleh orang dewasa lain. Menyenangkan? Tentu tidak.

Anak juga manusia, orang tua, orang dewasa perlu ingat itu. Mereka sama seperti kita, mereka juga punya akal dan perasaan yang bekerja tanpa henti. Sama seperti orang dewasa yang bisa jadi sakit hati jika dibentak, anak pun bisa sakit hati. Bisakah dia membalas pada orang tua? Tidak, tidak bisa. Tapi, ingat, anak terus tumbuh dan belajar banyak dari orang dewasa. Jika balasan itu bukan untuk orang tua, maka bisa jadi hal itu justru untuk kawan-kawannya di masa depan. Bisa jadi, sakit hatinya akan timbul di kemudian hari, memengaruhi sikapnya, dan berimplikasi pada  penerimaan orang lain terhadapnya.

Anak juga manusia. Di kepalanya ada akal sama seperti orang dewasa. Haruskah orang dewasa berbohong hanya untuk menjelaskan sesuatu yang sebetulnya sederhana? Jika anak memaksa ingin main di suatu tempat tetapi orang tua melarangnya, maka harus dijelaskan mengapa ia tidak boleh bermain di tempat itu. Bukan justru mengancamnya dengan mencari dalih bahwa ia akan ditangkap polisi, di sana ada tikus, nanti dimarahi X, dan sebagainya. Jelaskanlah kepada anak mengapa ia tidak boleh melakukan hal ini dan hal itu. Jelaskan sejelas-jelasnya sehingga anak mengerti. Bukankah justru dengan mengancam dan berdalih ini itu menunjukkan bahwa orang tua si anak tidak mampu mengatasi masalah-masalah sederhana?

Orang tua juga perlu belajar. Orang tua juga perlu mengingat. Orang tua juga perlu berubah.

Poin saya, dengan cara apapun Anda mendidik anak, hargailah keberadaannya sebagai manusia yang dinamis dan aktif bukan sebagai robot yang hanya hadir untuk diperintah. Kasihilah anak karena ia belajar arti kasih sayang dari Anda. Ingat, anak adalah manusia jadi perlakukan ia layaknya manusia. 

Salam, 
Dinia