Tunggu. Andai saja kata itu terlontar kemarin di tengah deru kehidupan yang kamu pacu sedemikian kencang. Tunggu. Sebelum sempat aku berpikir untuk menghentikan sementara waktu yang memisahkan kita, kamu sudah lagi memeriksa jalan dan menyimpan sore untukmu sendiri. Tunggu. Ketika dua kekasih di lorong panjang, di belakangku, bertukar harapan dari masing-masing telapak tangan yang berkeringat, aku harus berdoa sendiri pada Tuhan agar besok pertemuan kita jauh lebih panjang. Tunggu! Kali ini aku mau menyerumu. Tunggu! Tapi aku tak mau mengejar. Karna mengejar berarti mengeja doa yang sudah dikabulkan.