Kamu bergurau tentang segala mimpi:
Setiap pagi kau jemur gurauanmu agar hangat dan tak lapuk.
Kamu bercanda tentang luas tanah yang akan kamu miliki:
Setiap sore aku mengintip candamu, dan diamdiam mereka telah siap menemaniku makan malam: mengemis sesuap kenyataan yang aku beli di kaki lima.
Kamu bergurau tentang masa lalu yang seperti pesta yang dilakukan sendiri:
Sekali lagi masa lalumu menyalakan keran di depan rumahku: minta dibasuh supaya tak lagi bau.
Kamu bercanda tentang ibumu tentang ayahmu tentang kakakmu tentang adikmu tentang keluargamu yang kamu letakkan di dalam jambangan kusam dengan jadwal penyiraman yang rutin dan membosankan:
Nyatanya kamu membeli mereka dari toko rasa sebal yang sudah hampir pailit.
Kamu bergurau dan kamu bercanda tentang setiap senti hidupmu yang sebentar lagi minta disiapkan ruang di dalam kamar perasaanku.
Kamu bergurau dan bercanda sementara aku diam diam menilai dengan serius.