Jumat, 05 September 2014

Perkara Bertemu


Ada lakilaki yang hidup berteman sepi.
Ada perempuan yang jatuh cinta pada lakilaki itu. Tapi karena berbeda kawan mereka urung bertemu.

Selip ramaiku tak pernah cukup temani sendirimu. Sementara sepimu terasing di bingar hidupku.

Apa hidup sedemikian penuh tekateki sampai kau dan aku bertemu pada batas tertentu yang boleh kubilang sangat jarang?

Sebenarnya ini bukan perkara bertemu. Pertemuanku dan kamu betlubetul bisa menyesatkan perasaanku. Membawa aku pada lompatan imajinasi yang terlalu jauh; menerbangkanku dari kenyataan bahwa selama ini aku hanya berteman dengan tiadamu.

Tapi ya ini pula perkara pertemuan..

Meski aku tahu jika kita saling bertemu, tetap akan sulit menciptakan percakapan. Aku tahu yang akan hadir di antara kita nanti adalah canggung, bukan rasa akrab seperti yang selama ini aku nanti-nantikan. Persis seperti bulan putih dan mentari senja yang bertemu di suatu penghabisan sore terang. Keduanya tampak di langit. Menduduki singgahsananya masing-masing. Bertukar sapa dengan para pemuja, tapi toh mereka tak memiliki kata untuk saling mengucap.

Entahlah membayangkannya membuatku merasa lebih baik menyimpan rasa ingin bertemu itu seorang diri.

Aku tahu sebetulnya pertanyaan untukmu bertaburan dalam kepalaku seperti langit malam di puncak gunung. Aku tahu dan bila mungkin aku dapat mencatatnya. Tapi perlukah?

Perlukah katakata itu jika akhirnya aku malah melengos dari mereka dan memilih untuk diam di hadapanmu?