Tunggu. Andai saja kata itu terlontar kemarin di tengah deru kehidupan yang kamu pacu sedemikian kencang. Tunggu. Sebelum sempat aku berpikir untuk menghentikan sementara waktu yang memisahkan kita, kamu sudah lagi memeriksa jalan dan menyimpan sore untukmu sendiri. Tunggu. Ketika dua kekasih di lorong panjang, di belakangku, bertukar harapan dari masing-masing telapak tangan yang berkeringat, aku harus berdoa sendiri pada Tuhan agar besok pertemuan kita jauh lebih panjang. Tunggu! Kali ini aku mau menyerumu. Tunggu! Tapi aku tak mau mengejar. Karna mengejar berarti mengeja doa yang sudah dikabulkan.
Kamis, 01 Mei 2014
Anak
I am not a mother yet, but I witness everyday how a mother treats her children.
Kadang kita suka lupa kalau anak juga manusia. Dengan relasi kuasa yang alamiah terbentuk antara orang tua dan anak, banyak orang tua berhak mengabaikan perasaan anaknya. Seringkali pula saya ingin meminjamkan kaca mata kepada orang tua, agar ia tahu perspektif lain mengenai pola asuhnya terhadap sang anak.
Menyaksikan anak diteriaki, diancam, ditakut-takuti, bahkan hanya untuk hal yang sederhana membuat hati saya miris. Terlebih perlakuan macam itu tidak mengenal kelas sosial orang tua. Artinya baik si kaya maupun si miskin, si berpendidikan maupun si tidak berpendidikan, bisa jadi memperlakukan anak dengan cara yang sama tidak menyenangkannya.
Kalau boleh saya kutip dari film "The Help": "..once babies start havin' their own babies." -Aibileen
Apa yang musti disiapkan untuk menjadi orang tua? Tidak tahu, saya tidak tahu. Tapi satu yang pasti, bahwa orang tua hadir lebih dahulu daripada anak mereka. Bahwa orang tua telah mencicipi hidup lebih dahulu daripada anak mereka. Dan bahwa karenanya, orang tua seyogyanya menjadi figur dewasa yang ajeg dalam hal karakter maupun perilaku.
Saya pun tidak mengetahui indikator kedewasaan seseorang. Tapi apakah tindakan membentak, mengancam, meneriaki orang lain, bersikap kasar dengan emosi tidak terkendali dapat dikelompokkan ke dalam sikap yang dewasa? Bukankah sebagai pribadi dewasa sejatinya seorang individu mampu menghargai eksistensi orang lain? Anda yang menilai.
Seringkali orang tua berteriak pada anak untuk hal-hal sepele yang sebetulnya bisa dikomunikasikan dengan cara yang lebih baik tanpa harus mengintimidasi anak. Misalnya, seorang anak tidak mau berhenti mendetingkan sendok dengan piringnya, haruskah orang tua berteriak: "Heh ga bisa diem banget sih! Berisik tau!" kemudian merebut sendok dari tangan si anak? Atau justru: "Heh kalau berisik nanti ditangkap polisi!".
Bagaimana jika Anda sebagai orang dewasa diperlakukan seperti itu oleh orang dewasa lain. Menyenangkan? Tentu tidak.
Anak juga manusia, orang tua, orang dewasa perlu ingat itu. Mereka sama seperti kita, mereka juga punya akal dan perasaan yang bekerja tanpa henti. Sama seperti orang dewasa yang bisa jadi sakit hati jika dibentak, anak pun bisa sakit hati. Bisakah dia membalas pada orang tua? Tidak, tidak bisa. Tapi, ingat, anak terus tumbuh dan belajar banyak dari orang dewasa. Jika balasan itu bukan untuk orang tua, maka bisa jadi hal itu justru untuk kawan-kawannya di masa depan. Bisa jadi, sakit hatinya akan timbul di kemudian hari, memengaruhi sikapnya, dan berimplikasi pada penerimaan orang lain terhadapnya.
Anak juga manusia. Di kepalanya ada akal sama seperti orang dewasa. Haruskah orang dewasa berbohong hanya untuk menjelaskan sesuatu yang sebetulnya sederhana? Jika anak memaksa ingin main di suatu tempat tetapi orang tua melarangnya, maka harus dijelaskan mengapa ia tidak boleh bermain di tempat itu. Bukan justru mengancamnya dengan mencari dalih bahwa ia akan ditangkap polisi, di sana ada tikus, nanti dimarahi X, dan sebagainya. Jelaskanlah kepada anak mengapa ia tidak boleh melakukan hal ini dan hal itu. Jelaskan sejelas-jelasnya sehingga anak mengerti. Bukankah justru dengan mengancam dan berdalih ini itu menunjukkan bahwa orang tua si anak tidak mampu mengatasi masalah-masalah sederhana?
Orang tua juga perlu belajar. Orang tua juga perlu mengingat. Orang tua juga perlu berubah.
Poin saya, dengan cara apapun Anda mendidik anak, hargailah keberadaannya sebagai manusia yang dinamis dan aktif bukan sebagai robot yang hanya hadir untuk diperintah. Kasihilah anak karena ia belajar arti kasih sayang dari Anda. Ingat, anak adalah manusia jadi perlakukan ia layaknya manusia.
Salam,
Dinia
Jumat, 25 April 2014
SHARING- GOD PRO
Selalu bingung deh gue kalau mau mulai nulis.
Nulis, ya nulis aja, toh ini blogmu sendiri kok.
Baiklah, banyak hal yang terjadi dan tidak gue ceritakan lewat sini. Banyak, banyak sekali, yang paling membekas adalah serangkaian kegagalan yang seolah-olah sudah didaftarkan atas nama gue. Kalau sudah menyangkut 'gagal' gue selalu ingat ucapan sahabat, Husein.
Suatu kali ia ditanya oleh salah satu teman kami, "Apply sana sini mulu, Cheng. Ckck.". Tahu jawaban Husein apa? "Biarin, gue lagi ngabisin jatah gagal gue.". Jawaban yang menyenangkan dan akan selalu gue ingat! Intinya, gagal dan berhasil peluangnya sama, memulai langkah itu yang sulit.
Nah, sebetulnya lewat post kali ini gue mau cerita tentang proyek pribadi yang jadi pilot project untuk diri gue sendiri. Dilatarbelakangi oleh kondisi iman yang naik turun, dan pada praktiknya ibadah guememang masih kurang banget, gue berinisiatif untuk membuat peranjian keci-kecilan dengan diri gue sendiri: Goodness Project (GOD PRO). Tujuan dari proyek ini adalah agar guesecara konsisten melakukan suatu ibadah sekalipun sesederhana membaca Bagaimana realisasi proyek ini?
Pertama gue membuat konsep dasarnya: reward and punishment.
Lalu, gue membuat ibadah apa saja yang menjadi target gue untuk dilakukan secara kontinyu. Gue memilih empat jenis. Ga usah disebutkan ya :"). Setiap melakukan satu jenis ibadah, gue bakalan dapet satu hati.
Hati nya sengaja gue bikin warna-warni sesuai jenis ibadahnya. Nah setelah itu, hati-hati itu gue kumpulkan di dalam jar of goodness.
Nulis, ya nulis aja, toh ini blogmu sendiri kok.
Baiklah, banyak hal yang terjadi dan tidak gue ceritakan lewat sini. Banyak, banyak sekali, yang paling membekas adalah serangkaian kegagalan yang seolah-olah sudah didaftarkan atas nama gue. Kalau sudah menyangkut 'gagal' gue selalu ingat ucapan sahabat, Husein.
Suatu kali ia ditanya oleh salah satu teman kami, "Apply sana sini mulu, Cheng. Ckck.". Tahu jawaban Husein apa? "Biarin, gue lagi ngabisin jatah gagal gue.". Jawaban yang menyenangkan dan akan selalu gue ingat! Intinya, gagal dan berhasil peluangnya sama, memulai langkah itu yang sulit.
Nah, sebetulnya lewat post kali ini gue mau cerita tentang proyek pribadi yang jadi pilot project untuk diri gue sendiri. Dilatarbelakangi oleh kondisi iman yang naik turun, dan pada praktiknya ibadah guememang masih kurang banget, gue berinisiatif untuk membuat peranjian keci-kecilan dengan diri gue sendiri: Goodness Project (GOD PRO). Tujuan dari proyek ini adalah agar guesecara konsisten melakukan suatu ibadah sekalipun sesederhana membaca Bagaimana realisasi proyek ini?
Pertama gue membuat konsep dasarnya: reward and punishment.
Lalu, gue membuat ibadah apa saja yang menjadi target gue untuk dilakukan secara kontinyu. Gue memilih empat jenis. Ga usah disebutkan ya :"). Setiap melakukan satu jenis ibadah, gue bakalan dapet satu hati.
Hati nya sengaja gue bikin warna-warni sesuai jenis ibadahnya. Nah setelah itu, hati-hati itu gue kumpulkan di dalam jar of goodness.
Terus reward and punishment nya?
Untuk reward syaratnya adalah gue harus mengumpulkan lima puluh hati. Terdengarnya sih banyak.. Tapi coba pikir deh kalau sehari bisa menghasilkan lima hati. Jadinya cuma sepuluh hari bukan?
Reward nya sendiri bukan hal yang mahal atau gimana kok, cuma hal sederhana. Gue suka banget sama ayam katsu mamanya Huesin yang buka kedai di kantin Psikologi. Demi Tuhan, itu enak banget. Nah, karena sejauh ini makanan itu yang lagi gue suka, maka reward yang akan gue dapatkan adalah makan ayam katsu di kedai mamanya Husein.
Sementara untuk punishment gue berlakukan jika gue ketinggalan shalat fardhu. Sekali, dua kali pasti pernah ya.. Nah, untuk memperbaiki itu gue memberikan punishment berupa kehilangan satu hati.
Sejak beberapa hari lalu program ini gue jalankan dan hasilnya alhamdulillah.
Dengan program ini gue bukan berusaha kalkulatif sama ibadah, ibadah kok itung-itungan. Bukan gitu kok maksudnya. Tapi gue mau lebih semangat dengan ibadah yang lebih rapi dan terorganisasi dengan baik. Setiap manusia pasti punya kekurangan, gue pun begitu. Ini adalah cara gue untuk memperbaiki diri dan meningkatkan ibadah. Ibadah yang sering dan rajin memang ga menjanjikan hubungan lo dengan Tuhan lebih baik. Semua kembali ke bagaimana kita menjalaninya. Tapi, kalau kita tahu masih banyak kekurangan diri, berdiam ga akan mengubah apapun.
Salam,
Dinia.
Langganan:
Postingan (Atom)

