Kamis, 29 Mei 2014

Diamdiam

Kamu bergurau tentang segala mimpi:
Setiap pagi kau jemur gurauanmu agar hangat dan tak lapuk.

Kamu bercanda tentang luas tanah yang akan kamu miliki:
Setiap sore aku mengintip candamu, dan diamdiam mereka telah siap menemaniku makan malam: mengemis sesuap kenyataan yang aku beli di kaki lima. 

Kamu bergurau tentang masa lalu yang seperti pesta yang dilakukan sendiri:
Sekali lagi masa lalumu menyalakan keran di depan rumahku: minta dibasuh supaya tak lagi bau. 

Kamu bercanda tentang ibumu tentang ayahmu tentang kakakmu tentang adikmu tentang keluargamu yang kamu letakkan di dalam jambangan kusam dengan jadwal penyiraman yang rutin dan membosankan:
Nyatanya kamu membeli mereka dari toko rasa sebal yang sudah hampir pailit. 

Kamu bergurau dan kamu bercanda tentang setiap senti hidupmu yang sebentar lagi minta disiapkan ruang di dalam kamar perasaanku. 

Kamu bergurau dan bercanda sementara aku diam diam menilai dengan serius.

Tunggu

Tunggu. Andai saja kata itu terlontar kemarin di tengah deru kehidupan yang kamu pacu sedemikian kencang. Tunggu. Sebelum sempat aku berpikir untuk menghentikan sementara waktu yang memisahkan kita, kamu sudah lagi memeriksa jalan dan menyimpan sore untukmu sendiri. Tunggu. Ketika dua kekasih di lorong panjang, di belakangku, bertukar harapan dari masing-masing telapak tangan yang berkeringat, aku harus berdoa sendiri pada Tuhan agar besok pertemuan kita jauh lebih panjang. Tunggu! Kali ini aku mau menyerumu. Tunggu! Tapi aku tak mau  mengejar. Karna mengejar berarti mengeja doa yang sudah dikabulkan.

Kamis, 01 Mei 2014

Anak

I am not a mother yet, but I witness everyday how a mother treats her children.

Kadang kita suka lupa kalau anak juga manusia. Dengan relasi kuasa yang alamiah terbentuk antara orang tua dan anak, banyak orang tua berhak mengabaikan perasaan anaknya. Seringkali pula saya ingin meminjamkan kaca mata kepada orang tua, agar ia tahu perspektif lain mengenai pola asuhnya terhadap sang anak. 

Menyaksikan anak diteriaki, diancam, ditakut-takuti, bahkan hanya untuk hal yang sederhana membuat hati saya miris. Terlebih perlakuan macam itu tidak mengenal kelas sosial orang tua. Artinya baik si kaya maupun si miskin, si berpendidikan maupun si tidak berpendidikan, bisa jadi memperlakukan anak dengan cara yang sama tidak menyenangkannya. 

Kalau boleh saya kutip dari film "The Help": "..once babies start havin' their own babies." -Aibileen

Apa yang musti disiapkan untuk menjadi orang tua? Tidak tahu, saya tidak tahu. Tapi satu yang pasti, bahwa orang tua hadir lebih dahulu daripada anak mereka. Bahwa orang tua telah mencicipi hidup lebih dahulu daripada anak mereka. Dan bahwa karenanya, orang tua seyogyanya menjadi figur dewasa yang ajeg dalam hal karakter maupun perilaku. 

Saya pun tidak mengetahui indikator kedewasaan seseorang. Tapi apakah tindakan membentak, mengancam, meneriaki orang lain, bersikap kasar dengan emosi tidak terkendali dapat dikelompokkan ke dalam sikap yang dewasa? Bukankah sebagai pribadi dewasa sejatinya seorang individu mampu menghargai eksistensi orang lain? Anda yang menilai. 

Seringkali orang tua berteriak pada anak untuk hal-hal sepele yang sebetulnya bisa dikomunikasikan dengan cara yang lebih baik tanpa harus mengintimidasi anak. Misalnya, seorang anak tidak mau berhenti mendetingkan sendok dengan piringnya, haruskah orang tua berteriak: "Heh ga bisa diem banget sih! Berisik tau!" kemudian merebut sendok dari tangan si anak? Atau justru: "Heh kalau berisik nanti ditangkap polisi!".

Bagaimana jika Anda sebagai orang dewasa diperlakukan seperti itu oleh orang dewasa lain. Menyenangkan? Tentu tidak.

Anak juga manusia, orang tua, orang dewasa perlu ingat itu. Mereka sama seperti kita, mereka juga punya akal dan perasaan yang bekerja tanpa henti. Sama seperti orang dewasa yang bisa jadi sakit hati jika dibentak, anak pun bisa sakit hati. Bisakah dia membalas pada orang tua? Tidak, tidak bisa. Tapi, ingat, anak terus tumbuh dan belajar banyak dari orang dewasa. Jika balasan itu bukan untuk orang tua, maka bisa jadi hal itu justru untuk kawan-kawannya di masa depan. Bisa jadi, sakit hatinya akan timbul di kemudian hari, memengaruhi sikapnya, dan berimplikasi pada  penerimaan orang lain terhadapnya.

Anak juga manusia. Di kepalanya ada akal sama seperti orang dewasa. Haruskah orang dewasa berbohong hanya untuk menjelaskan sesuatu yang sebetulnya sederhana? Jika anak memaksa ingin main di suatu tempat tetapi orang tua melarangnya, maka harus dijelaskan mengapa ia tidak boleh bermain di tempat itu. Bukan justru mengancamnya dengan mencari dalih bahwa ia akan ditangkap polisi, di sana ada tikus, nanti dimarahi X, dan sebagainya. Jelaskanlah kepada anak mengapa ia tidak boleh melakukan hal ini dan hal itu. Jelaskan sejelas-jelasnya sehingga anak mengerti. Bukankah justru dengan mengancam dan berdalih ini itu menunjukkan bahwa orang tua si anak tidak mampu mengatasi masalah-masalah sederhana?

Orang tua juga perlu belajar. Orang tua juga perlu mengingat. Orang tua juga perlu berubah.

Poin saya, dengan cara apapun Anda mendidik anak, hargailah keberadaannya sebagai manusia yang dinamis dan aktif bukan sebagai robot yang hanya hadir untuk diperintah. Kasihilah anak karena ia belajar arti kasih sayang dari Anda. Ingat, anak adalah manusia jadi perlakukan ia layaknya manusia. 

Salam, 
Dinia