Minggu, 04 Januari 2015

Isyarat

Isyarat adalah bahasa kelu yang tak pernah menari dari kata terucap.
Dalam sepi dan diam, kerling mata bisa jadi tanda, mungkin diartikan salah tapi bisa juga benar.
Isyarat menemukan maknanya dalam kegelisahan yang berharap kekeliruan menjauh dari arti yang ditemukan.
Entah bagaimana, isyarat melemparkan busur panah pada yang dikehendaki. Memberikan peta untuk mencari apa yang dimaksud dari apa yang tersembunyi.

Isyarat membuat perjalanan terasa lambat, diulur-ulur oleh dugaan yang cemasnya mampu menggugurkan daun muda yang baru tumbuh di pohon. Isyarat menjadikan ingatan sebagai ruh: tak bisa dilepaskan untuk kemudian direlakan.

Dan pada suatu ketika yang datang adalah hanya isyarat: entah yang sebenar dirasa, atau justru menciptakan apa yang tiada.

Jumat, 05 September 2014

Perkara Bertemu


Ada lakilaki yang hidup berteman sepi.
Ada perempuan yang jatuh cinta pada lakilaki itu. Tapi karena berbeda kawan mereka urung bertemu.

Selip ramaiku tak pernah cukup temani sendirimu. Sementara sepimu terasing di bingar hidupku.

Apa hidup sedemikian penuh tekateki sampai kau dan aku bertemu pada batas tertentu yang boleh kubilang sangat jarang?

Sebenarnya ini bukan perkara bertemu. Pertemuanku dan kamu betlubetul bisa menyesatkan perasaanku. Membawa aku pada lompatan imajinasi yang terlalu jauh; menerbangkanku dari kenyataan bahwa selama ini aku hanya berteman dengan tiadamu.

Tapi ya ini pula perkara pertemuan..

Meski aku tahu jika kita saling bertemu, tetap akan sulit menciptakan percakapan. Aku tahu yang akan hadir di antara kita nanti adalah canggung, bukan rasa akrab seperti yang selama ini aku nanti-nantikan. Persis seperti bulan putih dan mentari senja yang bertemu di suatu penghabisan sore terang. Keduanya tampak di langit. Menduduki singgahsananya masing-masing. Bertukar sapa dengan para pemuja, tapi toh mereka tak memiliki kata untuk saling mengucap.

Entahlah membayangkannya membuatku merasa lebih baik menyimpan rasa ingin bertemu itu seorang diri.

Aku tahu sebetulnya pertanyaan untukmu bertaburan dalam kepalaku seperti langit malam di puncak gunung. Aku tahu dan bila mungkin aku dapat mencatatnya. Tapi perlukah?

Perlukah katakata itu jika akhirnya aku malah melengos dari mereka dan memilih untuk diam di hadapanmu?


Selasa, 02 September 2014

Di Pedalaman Matamu


Aku berenang di matamu.
Menyelami lautan bintang penuh luka.
Dulu sepimu satu per satu datang, mengoyak pedalaman matamu.
Darah katamu adalah suka; mereka membeku jadi kerling baru bernama bintang.

Katamu sepimu indah. Menerangi gelap hidup yang terlalu bingar. Aku menyelam di pedalaman matamu. Menemukan malam yang siap menikam dengan pertanyaan. Menemui pagi yang siap menghadang dengan kata pisah.

Lalu relung matamu menjadi lautan, menjadi buih, menjadi uap, menjadi tiada.

Lalu aku berenang, menyelam, masuk ke dalam matamu yang menyesatkan dalam ingatan terang.

Kamu, matamu yang jalang yang garang yang nyalang yang tanpa sayang telah begitu kelam jadi samudera tak bertuan.